Nayla Nadzifah Baihaqi

Telah lahir dengan selamat, anak kami yang terkasih Nayla Nadzifah Baihaqi. Pada Sabtu dinihari 16 Februari 2008, pukul 00.30 dengan berat 2,5 Kg dan panjang 48 cm, di Kilinik Bersalin Insan Permata, dengan persalinan di bantu oleh dr. Sapto Widodo Sp. OG.

Arti nama Nayla (Nai’lah) adalah wanita pemurah/baik hati dan sedangkan Nadzifah berarti bersih. Do’a kami adalah kelak Nayla Nadzifah menjadi anak yang pemurah lagi baik hatinya serta bersih dan cantik hatinya (tidak cuma cantik dan bersih parasnya saja). Amieen.

***

Ghiffari nampak bahagia dan senang sekali dengan kehadiran Nayla. Hampir setiap teman sepermainnya diberitahu dan diajak untuk melihat adik barunya. Tidur pun semalam minta bersama adik Nayla. Semalam saat belajar IPS untuk ulangan hari ini, ia meminta Yayang untuk menggendong Nayla dekat-dekat dengannya, hanya untuk sekedar mendengarkan ia membaca.

Jihan tidak secemburu yang kami khawatirkan, ia tampak girang bila kami panggil dengan sebutan kakak. Dan tak segan membantu Yayang untuk sekedar mengambilkan popok, minyak telon atau apapun yang lainnya. Tapi bila Ghiffari juga berniat membantu, mereka pun bersegera dan terkadang menimbulkan keributan kecil. Jihan sesekali muncul koloknya, minta gedong, atau pura-pura minta ditidurkan seperti adik Nayla. Untungnya koloknya tidak ditujukan kepada Yayang, tetapi kepadaku, jadi tidak begitu merepotkan.

***


Kebahagiaan semoga selalu menjadi bahagian hidup kami, kemarin, hari ini dan hari esok.

VISI INDONESIA

Siapa bilang negeri ini nggak punya visi coba lihat kutipan dari VISI INDONESIA 2020 berikut:

Visi Indonesia 2020 adalah wujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara.

REKOMENDASI KEBIJAKAN: AGENDA NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING.

Indonesia tidak dapat membangun daya saing nasional dalam waktu sekejap sehingga perlu tahapan dengan melakukan trans formasi perekonomian dari yang saat ini bersifat resource based menuju investment based dan akhirnya mencapai inovation based.

Agenda jangka pendek – menengah:
1. Pemerintah harus segera melakukan tindakan nyata untuk menciptakan lingkungan ekonomi makro, politik, dan hukum yang handal dan stabil

2. Pemerintah harus segera membangun landasan ekonomi mikro yang kuat termasuk good corporate governance.

3. Pemerintah harus mampu membangun lingkungan usaha ekonomi mikro harus yang handal bagi perusahaan.

Agenda jangka menengah – panjang
1. Dalam jangka menengah secara bertahap harus didorong terwujudnya struktur lingkungan bisnis dalam bentuk kluster, dimana keseluruhan unsur usaha terkait dan saling mendukung satu dengan yang lainnya, seingga mendorong perekonomian yang produktif dan inovatif.

2. Pemerintah diharapkan lebih bertindak sebagai dinamisator, fasilitator dan regulator yang baik bukan sebagai investor.

3. Mendorong tercapainya inovasi sehingga litbang-litbang di perusahaan-perusahaan harus terus maju dan memberi ruang bagi SDM yang cerdas, terampil, dan inovatif.

Mampukah kita mencapai itu semua? Dimana kini paradigma wilayah perbatasan kita (khususnya Perbatasan Kalimantan) adalah tidak lebih wilayah “JABLAY”, jarang dibelai, maka jangan salahkan visi masyarakat setempat adalah kehidupan yang lebih baik, meski dari belaian negeri tetangga, dan berlakulah dengan halal “RUMPUT TETANGGA EMANG LEBIH HIJAU”.

Gonjang-ganjing Kasus BLBI yang membuang waktu, tenaga, pikiran, dan tentunya UANG RAKYAT, adalah salah satu peran dari ranah perbankan dan lembaga keuangan negeri ini, maka tak heran kalau Prof. Dr. Mubyarto — Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM bertanya, “MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT?”. Sedikit apa yang dikatakannya,”Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan “agent of development” yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa “kecele” menyaksikan kenyataan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin, baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu, di kampung-kampung pegunungan, maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam.”

Dua hal diatas telah nyata menjadi buah “busuk” hasil visi Indonesia, dan kini saatnya kita harus berjuang untuk suatu perubahan bukan revolusi! Perubahan kepada INDONESIA yang dirasakan kesejahteraannya oleh SEGENAP RAKYAT INDONESIA, baik di kota, di desa, di wilayah perbatasan, di pegunungan, di pesisir, dan bagi mereka seluruhnya, bukan hanya untuk Jawa, Betawi, Sunda, Makasar, Padang, atau suku-suku lainnya, tapi benar-benar untuk Indonesia Raya.

Jelang PEMILU 2009 nanti saatnya rakyat memilih bibit unggul yang “Indonesia”, bukan Jawa, Betawi, Sumatera, Sulawesi atau yang lainnya. Tetapi benar-benar Indonesia, hingga konsentrasi pembangunan meliputi seluruh wilayah Nusantara, dan wilayah perbatasan adalah Nusantara juga. Pemimpin juga harus orang Indonesia, bukan orang daerah apalagi indo, tapi murni orang Indonesia, yang cinta kemerdekaan dan tidak suka dijajah, baik oleh kultur kedaerahannya, golongannya, apalagi oleh asing.