Dompet Naruto

Gara-gara dompet bergambar Naruto pemberian Tante Zizah, kini Ghiffari menginginkan dompetnya terus terisi uang. Saat uang jajan pemberian Yayang habis dibelanjakan, tak lama kemudian ia akan meminta uang kembali untuk mengisi Dompet Narutonya. Repot!
Mengatur uang bukan pekerjaan gampang! Apalagi buat anak 7 tahun macam Ghiffari. Memilah yang mana kebutuhan dan keinginan, serta memprioritaskan urgensinya bukanlah hal yang mudah, bahkan diri kita para orang dewasa! Meski banyak teori dan ulasan oleh para ahli perencana keuangan, namun mengatur uang adalah masalah EQ dan SQ kita, bukan IQ!!!
Untuk pembelajaran kami menetapkan uang jajan mingguan. Untuk melatih hawa-nafsunya (EQ & SQ) pada uang, maka uang jajan hanya sekali diberikan pada hari Minggu. Ia bersetuju! Meski Yayang agak sedikit pesimis.
“Ingat Ai, uang itu buat seminggu, lho. Jangan dihabisin! Mama nggak mau ngasih uang kalau bukan hari Minggu. Ingat, ya, Ai!” Yayang selalu mengingatkannya.
Ghiffari yang sibuk, sebentar-sebentar mengambil dompet dari kantong celananya, membukanya dan menghitung-hitung uangnya serta menutupnya kembali dan lalu memasukkannya kembali di kantong celana seraya berucap enteng, “Ya, Ma…”
Saat jelang Maghrib kembali dari kampus, Yayang menginformasikan dengan nada pesimis,”Kayaknya nggak bisa, A. Dari tadi jajan terus, Ghiffari. Setiap aku ingetin malah kabur.”
“Ya, udah lihat aja dulu.”
Waktu usai sholat Maghrib, Ghiffari merengek minta diantar ke Alfamart untuk jajan. Aku coba mengingatkan kembali, kalau uang jajan mingguannya tidak bisa dibelanjakan untuk satu hari. Weleh-weleh… Bala-bala… Aku mengajaknya mengobrol untuk mengulur waktu seraya memancing keingin-tahuanku akan pengaturan uang mingguannya.

“Kalau Abang Ai punya uang dua puluh ribu, mau buat apa?”
“Aku mau beli mainan! Eh, Yah… Beliin aku komik Naruto yang nomor Duapuluh Delapan, Duapuluh Enam…”
“Beli sendirilah… Pakai duit Abang Ai!” Aku memotongnya cepat.
“Uangku nggak cukup! Tadi aku udah jajanin… Uangku tinggal berapa sekarang, ayo tebak?”
“Nggak tahu…”
Ia membuka dompetnya, menghitung uangnya…”Tinggal lima ribu… lima ratus, Yah”
Belakangan, guna memancing minat bacanya dan atas pengaruh Abang Fachrul (abang sepupunya) Ghiffari merengek minta komik Naruto. Kini, ia meminta lagi untuk seri yang lainnya. Weleh-weleh…
“Aku mau beli komik yang asli di Gramedia, harganya kata kakak Sarah tujuh belas ribu. Uangku kan… tinggal…” Ia membuka kembali dompet Narutonya… “Nggak cukup, Yah…. Tambahin!”
“Oh, nggak! Makanya Abang Ai nabung… ” Ia cuman melongo.
Aku mulai gerilya menasihatinya, memancing pikirnya… Membangkitkan imajinasi pada kebahagiaan diakhir saat-saat uang tabungannya bernilai besar, sehingga ia bisa memperuntukkan sesuai kebutuhan dan keinginannya. Ia mendengarkannya serta sesekali bertanya. Waktu berjalan terus… Ia lupa Alfamart! Hehehe
Butuh waktu, do’akan Ghiffari agar kelak mampu mengatur uang mingguannya yang tidak seberapa itu.
“Wah.. Kalau uangku udah banyak, nanti aku bisa traktir Mama, ama Yayah, sama Dedek juga makan di Pizza, dong… Eh, nggak, deng… di Hoka-hoka Bento, aja, ya, Yah? Eh… Enggak, deh… Pizza aja, nggak pa-pa” Ia tahu kalu aku lebih suka Pizza. Ah… Ghiffari
