Beri Janji Bukan Bukti

Sekumpulan para monyet bernyanyi sendu….
“Janji-janji, tinggal janji…. Nasib kami hanya mimpi…”

***
Dengan ini saya menghimbau kepada rekan-rekan outsourcing, pegawai kontrak, para PHK, para buruh, para petani yg sering kesulitan bibit apalagi pupuk bersubsidi, para nelayan yang tak lagi mampu melaut, para orang-orang kampung yg jalan desa/kampung/kota? banyak berlubang, rusak, kebanjiran, para supir yg setorannya tidak tergantung parpol apapun, para guru honor, pegawai honor, dan semua rakyat yg kerap diberi janji, bukan bukti pada setiap pemilu untuk menyuarakan aspirasinya pada perjuangan nasib masing-masing. Teruslah bekerja, perbaiki nasib saudara-saudari sendiri dengan keringat dan air-mata kalian, yang Insya Allah memiliki arti tersendiri di mata Tuhan Y.M.E.

***
Original picture’s taken from http://www.iowapresidentialwatch.com/images/cartoons/MonkeyBusiness-Md.jpg

Sumpeh!

Hari ini tanggal 28 Oktober 2008, seluruh pemuda menyumpahi para koruptor & politisi kotor serta semua yang menjadikan rakyat Indonesia menderita sepanjang kemerdekaan ini.

PERTAMA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
(Bukan Tanahnya Mafia Tanah, Developer “Kasdut”)

KEDOEA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
(Bukan bangsa Jawa lagi, Sunda Lagi, Batavia lagi, Batak lagi, Putera Daerah lagi, tapi Bangsa Indonesia)

KETIGA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
(Bukan bahasa Jawa lagi, Sunda Lagi, Batavia lagi, Batak lagi, Bahasa Daerah lagi, tapi Bahasa Indonesia)

***
Picture taken from http://www.r16korea.com

Negeri Sang Pandir

Apa, sih, yang Indonesia nggak punya? Wong, semua sumber kemakmuran tersedia disini. Tapi, kenapa rakyatnya lebih banyak menengadahkan tangan, terhimpit, sesak, dan mati, hanya untuk setara 3 bungkus rokok mild.

Gas bumi melimpah, tapi rakyat pusing akan ketersediaan pasokan Elpiji, apalagi harganya yang fluktuatif. Betapa pengelolaan sumber-sumber daya untuk kemakmuran rakyat sangat tidak becus, dan tidak punya visi apalagi moralitas.

Negeri ini telah tergadai! Republik ini milik “pengkhianat” yang bersekutu dengan Asing. Dan para sang Pandir bangga dengan ke-”barbie”-annya. Dan rakyat dipaksa menonton adegan paling cabul untuk sebuah nilai ke-tata-negara-an. Meski harus kuat menahan mual dan marah.

Kekuatan Asing bagi sektor perekonomian kita, menunjukkan bahwa para Sang Pandir tak lebih pintar dari para kuli. Dan kekuatan-kekuatan Pribumi seakan bagai membangun kerajaannya sendiri-sendiri, bagai lupa pada pamrih darah, dan nyawa para pahlawan negeri. Aku bukan kami apalagi kita! Kamu siapa?

Kerusakan dan kekacauan melanda negeri, semua, besar-kecil, kaya-miskin, tua-muda, selagi ada kesempatan, terus mencabut iman, menikam luhur, menginjak budi, menipu, mencuri, korupsi, yang penting untung sendiri.

***

Ref:
- Asing Kuasai Sektor Strategis, Pertumbuhan Ekonomi Semu (mediaindonesia.com)
- Perkebunan Indonesia (majalahkonstan.com)
- Perkebunan menanti perbankan (web.bisnis.com)

links:
- BKPM
- Regional Investment

Gambar milik www.swaberita.com