Happiness is a warm gun

Saatnya pistol dalam genggaman, mencoba untuk menarik pelatuk. Kepala penuh fragmen, ceritakan harapan, impian, ketakutan, keragu-raguan, ketertarikan, dan sejuta rasa, but if we never try, we never know! Pertaruhan nasib ada ditangan kita, bukan?

***

Aku ingin sekali bisa keluar dari zona perbudakan modern ini. Menjadi buruh kontrak entah sampai kapan, bagai telur diujung tanduk. Jelang empatpuluh tahun menghirup udara yang sekarang cenderung terkontaminasi oleh polutan modernisasi yang semakin tak ramah. Laju gerak makin tergesa-gesa di keramaian yang kian macet, pengap dan saling tak mau mengalah. untuk apa? Lantunan I’m only sleepingnya The Beatles mengiang-ngiang. “…RUNNING EVERYWHERE AT SUCH A SPEED, TILL THEY FIND, THERE’S NO NEED…”

Jatah helaan nafas tak pernah kita tahu, 40 tahun adalah masa yang cukup. Dan kini adalah saatnya menikmati setiap detik anugerah Sang Kuasa dalam ketenangan, kedamaian, dalam cengkerama bersama keluarga, syukur-syukur mampu berbagi untuk sesama. Reorientasi makna hidup terus berkecamuk. Saatnya menentukan pilihan, bidikan, dan bahkan harus tetapkan hati, rasa dan raga.

Mencari-cari jalan hanya berbantu rambu-rambu : Tak ada macet, tapi ada kendaraan. Aroma religi kuat semerbak dalam taman keragaman. Dekat dengan akar namun serasa dipucuk. Tak perlu tergesa dalam produktivitas. Tenang, Damai dan Romantis dalam deburan puji-syukur pada Yang Kuasa atas keindahan alam yang telah Ia ciptakan. Dimana? yang pasti bukan Jakarta. Jakarta tak lagi nyaman sejak era 80an.

***

Menetapkan pilihan hidup dan berani mengambil resiko haruslah dengan perhitungan matang. Kalau tidak ? Pertentangan untuk kembali menata kehidupan baru begitu kuat pertentangannya baik oleh Yayang maupun para buah hati. “Nanti nggak ada Mall, dong? Nggak bisa makan di Pizza Hut, dong? Nggak bisa nonton Twenty One, dong? Dan begitu banyak …dong, …dong lainnya. “Lagi, bisa apa kamu, Yah?” tanya Yayang.

Keyakinan kadang begitu taqlid karena kebuntuan, bukan karena kebodohan. Era informasi kini begitu deras dan mudah didapat, setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas meski tidak utuh dan detail. Dan cukup membantu.

***

Keputusan ada ditangan kananku serta tangan kiri istri dan anak-anakku. Semoga Tuhan Yang Memelihara selalu memudahkan tangan-tangan kami membelai Kasih-Nya, menggenggam Ridho-Nya, menggandeng Kekuatan-Nya sehingga tangan-tangan kami mampu menampar setiap godaan dan halangan yang menghadang, mendorong kelemahan dan keragu-raguan, meraih kemenangan dan kebahagiaan. Amiin.

***
Saya tertarik dengan Tanjung Pandan atau Manggar, Belitung. Ada yang bisa kasih saran atau info?

Beri Janji Bukan Bukti

Sekumpulan para monyet bernyanyi sendu….
“Janji-janji, tinggal janji…. Nasib kami hanya mimpi…”

***
Dengan ini saya menghimbau kepada rekan-rekan outsourcing, pegawai kontrak, para PHK, para buruh, para petani yg sering kesulitan bibit apalagi pupuk bersubsidi, para nelayan yang tak lagi mampu melaut, para orang-orang kampung yg jalan desa/kampung/kota? banyak berlubang, rusak, kebanjiran, para supir yg setorannya tidak tergantung parpol apapun, para guru honor, pegawai honor, dan semua rakyat yg kerap diberi janji, bukan bukti pada setiap pemilu untuk menyuarakan aspirasinya pada perjuangan nasib masing-masing. Teruslah bekerja, perbaiki nasib saudara-saudari sendiri dengan keringat dan air-mata kalian, yang Insya Allah memiliki arti tersendiri di mata Tuhan Y.M.E.

***
Original picture’s taken from http://www.iowapresidentialwatch.com/images/cartoons/MonkeyBusiness-Md.jpg

Sumpeh!

Hari ini tanggal 28 Oktober 2008, seluruh pemuda menyumpahi para koruptor & politisi kotor serta semua yang menjadikan rakyat Indonesia menderita sepanjang kemerdekaan ini.

PERTAMA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
(Bukan Tanahnya Mafia Tanah, Developer “Kasdut”)

KEDOEA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
(Bukan bangsa Jawa lagi, Sunda Lagi, Batavia lagi, Batak lagi, Putera Daerah lagi, tapi Bangsa Indonesia)

KETIGA
Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
(Bukan bahasa Jawa lagi, Sunda Lagi, Batavia lagi, Batak lagi, Bahasa Daerah lagi, tapi Bahasa Indonesia)

***
Picture taken from http://www.r16korea.com